 | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | MP-ers Indonesia |
REVIEW ini ditulis oleh Mba Rini Nurul Badariah di Multiply khusus REVIEW BUKU yang dibangunnya. Sudah ada sekitar 200an buku yang direview oleh Mba Rini! Aku suka review-review beliau karena isinya padat, holistik sekaligus jujur!
Kalau teman-teman tertarik mau ikutan membaca review buku beliau, teman-teman bisa menjenguknya di www.sinarbulan.multiply.com.Beliau sendiri bisa disebut sebagai salah satu penulis prolifik [sudah banyak karyanya] yang dimiliki Indonesia saat ini. Saya pikir, karena saya salah satu kontributor dalam buku ini, akan lebih baik jika saya meng-copy paste review dari pembaca saja, supaya lebih obyektif!--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Sub judul:Cerita Cinta Para Blogger Multiply IndonesiaPenulis : Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dkkEditor : Helvy Tiana Rosa, Tomi SatryatomoPenerbit : Lingkar Pena Publishing HouseTebal : 305 halamanCetakan : I, Februari 2008Beli di : BBC JatosHarga : Rp 33.000,00Skor : 8Cinta ada di mana-mana, dalam bentuk apa saja. Kepada pasangan hidup, kepada orangtua, kepada anak, kepada pekerjaan, kepada sesama manusia. Itulah yang diungkapkan dalam One Gigabyte of Love, yang menurut para editornya semula hendak dijuduli Multiply Your Love.Saya sempat mengintip proyek menulis beramai-ramai yang dikoordinir Sri Sarining Diyah ini beberapa waktu lalu.
Hasilnya cukup mengesankan. Lima puluh tiga orang blogger Multiply, yang terpilih dari 200 an naskah, memaparkan cinta dari berbagai sudut pandang. Tentu saja semua tulisan tersebut pernah (dan mungkin masih) tayang di MP masing-masing.
Selain merasa sebagai bagian dari komunitas Multiply, saya membeli buku ini karena terpikat pada penampilan sampulnya yang lain dari terbitan Lingkar Pena yang biasanya funky dan serba gaul.Beberapa nama yang berkontribusi dalam buku ini tak asing bagi saya kala wara-wiri di Multiply. Selain kakak-beradik HTR dan Asma Nadia, ada juga Nadiah 'Quadrangle' Alwi, Agnes Tri Harjaningrum, Cak Nono, Mbot, Imazahra, Sofie Dewayani, juga Dina Sulaeman, (saya malah baru tahu beliau punya MP juga :p). Posisi sebagian MP-ers yang bermukim di mancanegara menjadikan isi buku penuh warna. Berikut ini serangkum yang amat menawan:1. Welcoming A Gift from God (Agung Nugroho alias Mbot). Tulisan yang apa adanya dan 'gue banget'. Saya ternyata tidak sendiri dalam kekurangsukaan pada anak kecil dengan segala pernak-perniknya, walaupun nggak sampai tak ingin punya anak. Dengan caranya yang unik, Mbot menyentuh kedalaman hati saya sampai penutup cerita. Dua jempol.2. Bahasa Gado-gado (Wendi Damita Ruky). Akulturasi memang kerap menimbulkan geli. Saya terpingkal-pingkal menyimak betapa suami penulis dengan mudah menyerap kata 'lupa' saking seringnya Wendi mengatakan itu. 'You keep lupa-ing this, lupa-ing that..'3. Jalan Menuju Taman Surga (Dedy Subandi). Dikemukakan dengan indah, melankolisnya cerita ini terasa pas. Pertemuan dan kerinduan melalui mimpi dengan yang telah pergi. Ini pun kisah yang 'gue banget'. Terima kasih, Mas Dedy, saya akan belajar mengikhlaskan dia yang telah dipanggil Allah.4. Kalimat Positif (Nadiah Alwi). Saya pernah membacanya di MP Nad. Meski singkat, tulisan ini hadir di saat yang tepat karena kemarin saya tengah dialiri energi negatif dan ingin sekali meledakkannya. Merci beaucoup, ma vieille.5. Seribu Pohon Cinta Buat Richard (Jullie Guerre). Betapa menakjubkan, suatu kehidupan baru dapat membangkitkan semangat yang telah padam. Membaca tulisan ini terasa hidup sekali mengingat saya berada di dekat wilayah hutan pinus juga.6. Mampukah Aku Tumbuhkan Pohon Cinta Itu? (Agnes Tri Harjaningrum). Menggugah saya mengenai sesuatu bernama kesabaran, yang begitu sukar dan kerap laksana tak terjangkau. Saya belajar banyak dari cerita ini.7. Sebuah Karunia Bernama Deafness (Tuntas Margi Hartini). Salah satu yang paling mempesona dan mengharu-biru. Khususnya kalimat ini, "Yang makin menyedihkan, baru-baru ini pihak Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan beberapa dosen S3 dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI - Bandung) kekhususan Special Education mengeluarkan pernyataan bahwa para tunarungu lulusan SLB tidak mungkin bisa masuk kuliah dan membuat skripsi." (halaman 55) 8. Puisi dari Anakku (Tomi Satryatomo). Alangkah bahagianya memiliki anak yang pengertian terhadap kebersamaan yang nyaris langka. Saya teringat serentetan pertanyaan para keponakan tatkala membaca, "Jawablah pertanyaan anak kecil, sebagaimana kita menjawab pada orang dewasa karena mereka punya kecerdasannya sendiri." (halaman 35)9. Secangkir Teh Inggris (Fatima Zahra). Tanpa membaca tulisan ini, saya tidak akan tahu bahwa Ima sudah berkeluarga. Kisahnya puitis, bening dan sulit dilepaskan bila belum mencapai akhir.Tak kalah menarik untuk disimak, jumpalitannya kedua editor memoles naskah-naskah yang diuntai di sini.
'Sungguh, inilah naskah paling menantang yang pernah kami edit karena memang hampir semua naskah, bukanlah naskah yang direncanakan untuk diterbitkan. Tapi lebih banyak yang merupakan curahan hati suka-suka, yang ditulis secara seenaknya pula.' (halaman vi)
Bagian ini membawa ingatan saya pada suatu pengalaman menyunting naskah yang muter-muter, apalagi dalam One Gigabyte of Love juga terdapat tulisan panjang yang sempat saya lompati untuk dibaca paling akhir dan frasa-frasa khas blogger (baca: curhat) yang tidak diubah. Dapat saya bayangkan kepusingan duet editor buku ini, kendati penataan secara menyeluruh tetap manis. Ini terlihat dari penempatan yang sangat tepat, dibuka oleh cerita Lizsa Anggraeni yang mengalir bagai danau tenang dan menyejukkan.Kekurangan buku ini ialah tiadanya profil singkat penulis, mengingat tidak semua foto (headshot) ditampilkan di sampul belakang. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Education |
Teman-teman sudah nonton film Denias, Senandung di Atas Awan ? Aku telat banget yak! Film ini diproduksi tahun 2006 kan? Barusan saya menamatkan episode ke 12 nya. Soalnya saya mendownloadnya di Youtube, hehehehe... Ditengah-tengah maraknya film Indonesia yang booming tapi gak jelas banget dari sisi kualitas sinematografi dan alur cerita, film ini ibarat oase ditengah padang pasir! Adegan pembukanya saja sudah sangat menarik. Setelah upacara adat berlangsung, muncul dialog ibu Denias menasehati anaknya, "Denias, kau sudah besar, kau jangan nakal ya... kalau kau nakal, gunung disana bisa makan kau! Betul itu, itu sudah! Tapi kalau kau belajar yang rajin, pintar sekolah, gunung disana takut sama kau!" Keindahan alam dan adat istiadat orang Papua yang dihamparkan juga menghipnotis mata! Silahkan dijenguk di LINK INI. Oh iya, kalau ingin menonton keseluruhan episodenya, Anrra nya kudu di add as a friend, setelah itu kita bisa menonton kedua belas episode nya :-) SYNOPSIS dari DENIAS's WEBSITE:“Bapak yakin kamu bisa jadi ahli matematika,” kata pak Guru. “Gunung takut sama anak sekolah,” kata Mama. “Belajar bisa di mana saja …” kata Maleo. Denias, anak seorang petani suku di pedalaman tengah Papua. Semangat dan keinginan sekolah selalu bergejolak di batin dan pikirannya. Kalimat-kalimat orang yang ia sayang dan hormati terus terngiang dan membakar semangatnya. Dunia Denias adalah dunia sederhana, bermain dan bersekolah selain membantu Bapak di ladang. Hidup Denias berikutnya dibayangi kesedihan beruntun karena orang-orang yang ia cintai dan hormati satu demi satu meninggalkannya. Ibunya tersayang meninggal dalam suatu tragedi kebakaran honai keluarga mereka. Maleo pernah bilang ada sekolah fasilitas di balik gunung. Agar bisa tetap sekolah, Denias pergi meninggalkan rumah. Tidak perduli perjalanan ke sana sangat jauh dan sama sekali tidak mudah, harus berhari-hari melewati sungai, hutan dan gunung, Denias terus mengejar cita-citanya. Di tempat yang dituju, perjuangan Denias belum selesai. Sebagai anak suku biasa, Denias tidak mungkin boleh bersekolah di sekolah fasilitas itu. Perkenalannya dengan Enos membuat Denias bisa masuk ke dalam sekolah dan berupaya memetik pengetahuan dengan caranya sendiri. Kegigihan dan semangat Denias mengetuk hati Ibu Sam, salah seorang pengajar di sana. Rintangan datang dari sana-sini hingga Denias pun hampir putus asa. Apakah ibu Sam bisa membantu Denias bersekolah? Apakah Denias bisa sekolah lagi? *** Selanjutnya? Komentar saya hanya satu : Ini film yang LUAR BIASA! Jalan ceritanya sangat bagus, tidak terkesan menggurui padahal sarat pesan moral dan penyadaran atas kepedulian sosial yang mulai digerus zaman di bagian Papua kota. Contohnya bisa dikutip dari dialog Ibu Gembala yang diperankan Marcella dengan apik, dia memprotes aparat sekolah yang pilih-pilih murid, "pertama kali saya menjejakkan kaki ke pulau ini, saya fikir, ketidak adilan hanya dilakukan oleh orang di luar pulau ini, ternyata ketidakadilan juga dilakukan oleh orang-orang dalam pulau ini sendiri." Ck ck ck! Sindiran sosial tanpa tedeng aling-aling. DENIAS definitely is a must see movie: menggugah, mengharukan dan menyentak alam bawah sadar kita! Pengambilan gambarnya juga proporsional dan mahir, my applause to John De Rantau, orang Padang yang mensutradarai film berbobot ini. Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik untuk me-review film ini. Pertama, film ini mencoba mengungkapkan dengan gamblang bahwa betapa mewahnya pendidikan buat sekelompok masyarakat tertentu di negeri ini (film ini mengambil contoh masyarakat pedalaman Papua). Kedua, film ini berhasil melukiskan dengan indah sebuah tekad anak manusia untuk maju. Tak hanya kemauan baja sang tokoh yang berhasil diungkap, tapi film ini juga berhasil menggambarkan sosok Denias dan Enos yang berjuang keras untuk sekolah. Melarikan diri dari rumah, mendaki gunung, menyeberangi sungai, bermalam berhari-hari ditengah hutan dan kelaparan adalah lukisan sinematographi yang begitu manis sekaligus menyesakkan disuguhkan didepan mata kita. Ketiga, sampai detik ini saya masih sangat meyakini bahwa akar berbagai permasalahan struktural dan kultural dalam masyarakat salah satunya bisa dipecahkan melalui pendidikan. Keempat, film ini sukses membelalakkan alam fikir kita, bahwa dibelahan lain negeri Indonesia, berbagai kenyataan yang mungkin tidak kita sadari telah terjadi di negeri ini. Contohnya isu diskriminasi untuk mendapatkan akses terhadap pendidikan. Dari sisi akting, saya pun kagum! Denias yang diperankan oleh Albert dibawakan dengan cukup alami, padahal dia baru sekali ini bermain film! Wow! Bakat alam yang harus terus diasah. Walau konon Albert lebih memilih untuk menekuni seni suara. Akting tokoh-tokoh lainnya juga bagus, sebut saja nama Ari sihasale (sebagai Maleo, tentara ABRI yang berhati lembut dan idealis), ibu Gembala (Marcella Zalianti yang berperan sebagai ibu guru di kota), Mathias Muchus (yang menjadi guru di pedalaman Papua) dan sederet pemain lainnya. For me, this movie is a must see! Boleh dibilang, ini adalah film ethnography yang dikemas dengan serius tapi terasa ringan dicerna, karena adegan-adegan humor yang segar terselip disana sini, mengalir alami! Bravo John de Rantau. Piala Citra memang pantas diraih film ini. Aku menunggu karya-karyamu berikutnya! Ps. Kalau pulang nanti, mau ngajak adik-adikku nonton film ini ah di bioskop, masih diputar gak ya??? 
 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Review yang ditulis hampir dua bulan lalu. Aku bilang sih, ini film WAJIB TONTON, bagi pencinta kerja keras, bagi pejuang hidup! Sangat-sangat menyemangati jiwa!
My reflection on my own life after watched this movie:
I've just watched a -so touchy movie- this afternoon. To be honest, I was crying for almost the third part of the movie. Hiks hiks hiks...
After watching the Will Smith-starer The Pursuit of happy-ness I had realized that my own problems were trivial compared to the problems of a jobless father who couldn't find a home for his young son.
The movie further reminds me that there were little parts of my life called happiness - that day when I graduated from my pesantren also graduated from my university, that day when I got my really really first job, that day I officially got a new role as a wife and etc.
Of course there were also other parts -that part called for being so stupid-naive and that part called running but then finally I could appreciate my life more and more if I would focus on the parts when I was actually happy. *** I also really believe that HAPPINESS should be spelled with an I and not a Y. Not because it's what the dictionary dictates but because the meaning of happiness itself! For me, I could say Happiness is largely a personal decision that the I makes and a personal disposition that the I takes. Also as you can see, the letter I is the center of the word happ-i-ness. Why? Because the I is central to having a happy life. Don't you think like that as me think about it??? ^_^ *** Oke, sekarang reviewnya niy:
Film ini diangkat dari kisah nyata! Tentang keluarga kelas bawah Afro American yang berjuang untuk survive di belantara Amerika ditengah-tengah himpitan kemiskinan yang mendera mereka karena salah memulai langkah dalam berbisnis. *Kita semua juga pernah salah langkah kan?*
Si ayah adalah seorang salesman yang menjual alat kedokteran karena salah perhitungan dalam menginvestasikan uangnya. Dia fikir alat yang akan dijualnya tersebut akan menjadi fenomena masa depan bagi dunia kedokteran. Walau faktanya tak semudah apa yang ia bayangkan sebelumnya.
Ironis, perhitungan matematisnya meleset! Semua tabungannya dan istrinya Linda terkuras habis dan tak balik modal. Faktanya sangat sulit meyakinkan para dokter di hospital untuk membeli alat tersebut.
Di seperempat film pertama, kita akan disuguhi adegan dialog ayah dan anak yang berangkat ke nursery. Setelah mengantar si anak, si ayah lalu duduk menunggu bus, disapa orang gila, keluar masuk rumah sakit merayu dokter agar membeli mesin ‘canggih’nya, berlari-lari mengejar bus kembali dan dialog suami istri atas kesulitan mereka dalam menghadapi hidup: membayar bills, tax, dan kebutuhan sehari-hari. Adegan panjang yang melelahkan tapi sekaligus menyentuh hati kita: KESUKSESAN HIDUP HARUS DICAPAI MELALUI PROSES PANJANG. TAK ADA YANG TURUN DARI LANGIT BEGITU SAJA!!! Karena kemiskinan tak terlerai, istrinya terpaksa harus bekerja dua shift dan Chris sendiri tetap menjadi salesman menjual alat kedokteran yang menumpuk di rumahnya.
Mereka terus berjuang keras untuk hidup, sekedar bisa membayar uang kontrakan, uang nursery anak mereka satu-satunya dan kebutuhan makan sehari-hari.
Puncaknya, Linda akhirnya memutuskan meninggalkan Chris dan Christopher anaknya, karena dia ingin mencari peruntungan hidupnya di New York.
Kisah berjalan semakin menyesakkan, seiring Chris yang sangat tertekan karena ditinggal istri disatu sisi, dan disisi lain ia juga dikejar-kejar oleh landlord supaya membayar uang sewa rumah. Sampai pada akhirnya mereka harus angkat kaki dari rumah sewaan (sebanyak dua kali!) karena tidak mampu membayar uang sewa.
Sementara, Chris tetap tak berputus asa dan memutuskan menerima tawaran bekerja internship selama enam bulan di sebuah bank, walau tidak dibayar!!! Keputusan ini dia ambil karena tidak ada pilihan lain! *** Buatku, adegan paling menyesakkan adalah ketika Chris dan anaknya diusir paksa dari rumah sewa mereka dan terpaksa untuk semalam mereka harus tidur di WC umum! Seiring airmata Chris meluruh waktu menahan pintu WC dari gedoran orang yang ingin masuk WC, airmataku pun ikut runtuh. Hiks hiks hiks…
Sisanya adalah perjuangan dari hari ke hari, bahu membahu dengan anaknya melewati hari tanpa atap, alias mereka harus berpindah dari satu shelter ke shelter lain, berebut tempat satu malam dengan ratusan homeless lainnya. Sementara disisi lain Chris tetap harus belajar supaya dia lulus dalam internship nya dan mendapatkan pekerjaannya. What a really really tough life they have! *** Akankah Chris berhasil menjadi banker dan terselesaikankah masalah-masalah yang dihadapinya? Silahkan anda tonton sendiri ya ^_^ *siapin tissue sebelumnya loh ya* 
     | HEROES | Mar 30, '07 12:54 PM for everyone |
 | Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
Hai hai everybody! I've never wrote any reviews before, but this kinda science fiction drama television can't hold my hand to type in and post it to you all guys. So here it's my not-so-review, huehehe ^_^ For me, this series is just totally awesome! I couldn't believe it! As far as I know, I myself never fall in love with any series. I always think that any drama series, shows alias opera soap or whatever you name it, just the same. *Begitu begitu saja jalan ceritanya, pasaran! Seputar konflik keluarga, pengkhianatan cinta, pembunuhan berantai dstnya* Their stories, scripts, plots are rubbish! None of them made me become interested with the so called drama series! But my thought suddenly changed, this one is totally breathtaking!!! A month ago I've heard about this series many times, not only written in UK's newspapers, BBC and other media, but also spoken widely in internet, especially in so many people's blogs! Of course then, I found myself getting curious with this one: HEROES. So, after my good friend helped me fixing some troubles on my computer and I can do browse properly again, first thing I did I was checking this series! I began watching this show yesterday evening and I just knew that I've already fallen in love with! This show is totally different. The story is definitely brilliant, the script was written smartly and the twists, those were amazing! How could the writer keep the whole story unpredictable all the time, from episode to another episode? Oh my God, this show!!! You should watch this too!!! Basically Heroes is an American science fiction drama television series, created by Tim Kring *jenius banget niy orang, ck ck ck*, that premiered it on NBC on September 25, 2006. The series tells the story of several people who "thought they were like everyone else... until they woke with incredible abilities" such as telepathy, time travel, healing factor, and flight. These people soon realize and find superhuman abilities inside their bodies and they have an important role in preventing a catastrophe and saving human being in the world. At the beginning in some episodes look like Fantastic Four, Star Trek, Batman and Robin, Spiderman and any other Science Fiction movie, but then the story flows unpredictably! They keep you guessing and guessing and then you'll realize that you were completely wrong and then they throw in a whole new twist and it's killing me!! Seriously suspense me! It's sooo awkward; I can't stop myself from watching it since yesterday till now! So, all together, I've spend more than 24 hours watching the whole episodes from the first till the eighteenth! I just stopped when I need to do my pray and eat. Sounds crazy huh! I'm still couldn't believe in myself that I'm being addicted to this drama series from the first time I saw it. Oh my my! T_T Good news, thanks a lot for the link I found out at www.dailymotion.com where the members there keep putting the whole series from the beginning till the last season! So you guys could watch this one too for free! Hope you enjoy it! *Jangan-jangan teman-teman di Indonesia malah sudah bisa nonton DVD bajakannya yak, huehehe* :-p Bad news, at the end of episode 18, "Parasite", it was announced that Heroes would go on hiatus until April 23, 2007. Seriously? Almost a month? Why? The suspenes will kill me!!! Hiks hiks hiks, I think I couldn't wait any longer to watch the following episode to be aired and wired! PS: 1. If you'd like to know more about the plot, characters and ending in every episode already run, you could get it from HERE. Happy reading ^_^ 2. From all 'heroes' I love very much is Hiro Nakamura, a programmer from Japan. His innocent face, naive and humble character caught my interest and made me hooked up with! How bout you? 3. Kemarin aku sibuk browsed di link Search MP tuk menemukan orang Indonesia lain yang meresensi Heroes, tapi gak ketemu. Tapi tadi ada seseorang yang familiar denganku mengintip review ini, "Hi brother!" :-D Ternyata beliau lah MP-er yang sudah meresensi Heroes dengan sangat-sangat lengkap. Siapakah beliau? Yak, brother Firman. Silahkan ditengok MP beliau ^_^ 
| |